Search for:
📌Serah Terima Sertifikat IT Maturity Level di PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII)

📌 𝗦𝗲𝗿𝗮𝗵 𝗧𝗲𝗿𝗶𝗺𝗮 𝗦𝗲𝗿𝘁𝗶𝗳𝗶𝗸𝗮𝘁 𝗜𝗧 𝗠𝗮𝘁𝘂𝗿𝗶𝘁𝘆 𝗟𝗲𝘃𝗲𝗹 𝗱𝗶 𝗣𝗧 𝗣𝗲𝗻𝗷𝗮𝗺𝗶𝗻𝗮𝗻 𝗜𝗻𝗳𝗿𝗮𝘀𝘁𝗿𝘂𝗸𝘁𝘂𝗿 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 (𝗣𝗜𝗜)

𝗣𝗧 𝗠𝗶𝘁𝗿𝗮𝘁𝗲𝘅 𝗞𝗼𝗻𝘀𝘂𝗹𝘁𝗮𝗻 melaksanakan Serah Terima Sertifikat IT Maturity Level kepada 𝗣𝗧 𝗣𝗲𝗻𝗷𝗮𝗺𝗶𝗻𝗮𝗻 𝗜𝗻𝗳𝗿𝗮𝘀𝘁𝗿𝘂𝗸𝘁𝘂𝗿 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 (𝗣𝗜𝗜) sebagai bagian dari upaya penguatan tata kelola Teknologi Informasi.

Hasil asesmen ini diharapkan menjadi acuan strategis dalam meningkatkan kapabilitas TI, memperkuat tata kelola, serta mendukung kebutuhan bisnis perusahaan.

Terima kasih kepada PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII) atas kepercayaan yang diberikan.

#MitratexKonsultan #PenjaminanInfrastrukturIndonesia #ITMaturityLevel #ITMaturityAssessment #ITGovernance #TataKelolaTI #DigitalTransformation #ITTransformation

📌 Kick-Off Meeting Proyek Enhancement JIVA SLM di PT Jalin Pembayaran Nusantara

📌 𝗞𝗶𝗰𝗸-𝗢𝗳𝗳 𝗠𝗲𝗲𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗣𝗿𝗼𝘆𝗲𝗸 𝗘𝗻𝗵𝗮𝗻𝗰𝗲𝗺𝗲𝗻𝘁 𝗝𝗜𝗩𝗔 𝗦𝗟𝗠 𝗱𝗶 𝗣𝗧 𝗝𝗮𝗹𝗶𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗮𝘆𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗡𝘂𝘀𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮

𝗣𝗧 𝗠𝗶𝘁𝗿𝗮𝘁𝗲𝘅 𝗞𝗼𝗻𝘀𝘂𝗹𝘁𝗮𝗻 melaksanakan Kick-Off Meeting Proyek Enhancement JIVA SLM menggunakan 𝗘𝗦𝗧𝗜𝗠 𝗦𝗼𝗳𝘁𝘄𝗮𝗿𝗲 di 𝗣𝗧 𝗝𝗮𝗹𝗶𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗮𝘆𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗡𝘂𝘀𝗮𝗻𝘁𝗮𝗿𝗮.

Proyek ini merupakan pengembangan dan peningkatan lingkup implementasi ESTIM untuk mendukung pengelolaan layanan yang lebih optimal, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan operasional.

#MitratexKonsultan #JalinPembayaranNusantara #ESTIMSoftware #JIVASLM #KickOffMeeting #SystemEnhancement #DigitalTransformation

Data Warehouse Sudah Dibangun… Tapi Kenapa Angkanya Masih Berbeda?

Ketika Teknologi Sudah Siap, tetapi Sumber Data Belum Bisa Dipercaya.

Semua Ingin Jadi Data-Driven

Di ruang meeting, manajemen mulai membicarakan transformasi digital.

“Kita butuh Data Warehouse!”

Tujuannya jelas:

  • Semua data terintegrasi
  • Dashboard lebih mudah dibuat
  • Laporan lebih cepat tersedia
  • Keputusan bisnis berbasis data

Project pun dimulai.

Budget disetujui. Tim dibentuk. Teknologi dipilih.

Beberapa bulan kemudian…

Data Warehouse berhasil dibangun.

Semua terlihat berjalan sesuai rencana.

Tapi ternyata, masalah sebenarnya baru dimulai.


Isi artikel

Dashboard Sudah Ada… Tapi Angkanya Tidak Sama

Suatu hari, manajemen meminta laporan penjualan.

Tim Finance menunjukkan angka Rp12 miliar.

Tim Sales melaporkan Rp11,5 miliar.

Sementara dashboard Data Warehouse menampilkan Rp11,8 miliar.

Satu perusahaan. Satu periode. Tiga angka berbeda.

Lalu muncul pertanyaan:

“Sebenarnya data mana yang benar?”

Tim IT mulai melakukan pengecekan.

Ternyata…

Definisi transaksi berbeda.

Format data tidak konsisten.

Ada data duplikat.

Beberapa sistem belum tersinkronisasi.

Dan setiap departemen punya cara sendiri dalam menghitung laporan.

“Menggabungkan data dari banyak sistem tidak otomatis membuat data tersebut menjadi benar.”


Masalahnya Bukan Selalu di Data Warehouse

Banyak organisasi terlalu fokus pada pembangunan teknologi.

Server disiapkan.

Database dirancang.

Pipeline dibuat.

Dashboard dikembangkan.

Tapi satu hal sering terlupakan:

Apakah sumber datanya sudah benar-benar siap?

Karena kalau data dari awal sudah tidak konsisten…

Data Warehouse hanya akan mengumpulkan ketidakkonsistenan itu ke dalam satu tempat.

Garbage In, Garbage Out.

Teknologi secanggih apa pun tidak bisa otomatis memperbaiki data yang definisi, kualitas, dan kepemilikannya belum jelas.


Data Governance Bukan Sekadar Dokumentasi

Di sinilah pentingnya Data Governance.

Bukan hanya membuat kebijakan atau dokumen.

Tetapi memastikan organisasi memiliki kejelasan tentang:

  • Data Ownership: siapa yang bertanggung jawab terhadap data?
  • Data Quality: bagaimana kualitas data diperiksa dan dijaga?
  • Data Definition: apakah setiap departemen menggunakan definisi yang sama?
  • Data Integration: bagaimana data dari berbagai sistem diselaraskan?
  • Data Accountability: siapa yang harus bertindak ketika ditemukan masalah?

Tanpa pengelolaan yang jelas, setiap departemen bisa merasa datanya paling benar.

Padahal perusahaan membutuhkan satu pemahaman yang konsisten terhadap data, bukan sekadar satu tempat penyimpanan.

“Single Source of Truth bukan hanya soal menyatukan database, tetapi menyatukan definisi dan kepercayaan terhadap data.”


Isi artikel

Jangan Bangun Dashboard Sebelum Membereskan Fondasinya

Sebelum membangun Data Warehouse yang lebih besar, organisasi perlu memastikan:

1. Definisi data sudah disepakati.

Jangan sampai istilah customer aktif atau total penjualan memiliki arti berbeda di setiap departemen.

2. Kualitas sumber data sudah diperiksa.

Data duplikat, tidak lengkap, dan tidak konsisten harus diidentifikasi.

3. Kepemilikan data sudah jelas.

Harus ada pihak yang bertanggung jawab ketika kualitas data bermasalah.

4. Perbaikan data menjadi proses berkelanjutan.

Karena kualitas data tidak cukup diperbaiki sekali saat implementasi.

Data Warehouse adalah bagian dari solusi, bukan pengganti tata kelola data.


Pada Akhirnya, Bisnis Tidak Membutuhkan Sekadar Dashboard yang Indah

Manajemen tidak membutuhkan grafik yang hanya terlihat menarik.

Mereka membutuhkan informasi yang bisa dipercaya untuk mengambil keputusan.

Karena keputusan yang salah tidak selalu disebabkan oleh kurangnya data.

Kadang justru karena…

terlalu banyak data, tetapi tidak ada yang benar-benar yakin mana yang benar.

Data Warehouse yang hebat bukan yang mampu menyimpan data paling banyak, tetapi yang mampu menyediakan data yang konsisten dan dapat dipercaya.

Jadi sebelum perusahaan berinvestasi lebih jauh pada Data Warehouse, Analytics, bahkan AI…

pastikan fondasi datanya sudah benar.

Karena:

Data Warehouse bukan solusi kalau sumber datanya masih kacau.


Bagaimana dengan perusahaan Anda?

Apakah Data Warehouse sudah menjadi sumber informasi yang dipercaya, atau setiap departemen masih memiliki angka versinya masing-masing?

#DataWarehouse #DataGovernance #DataQuality #DataManagement #DataEngineering #BusinessIntelligence #DataAnalytics #DigitalTransformation #DataDriven #ITGovernance #EnterpriseData #Mitratex

Ditulis oleh: Rama Ambara

📌User Acceptance Test (UAT) – Proyek Konsultasi IT Service Management dan Implementasi ESTIM Software di AirNav Indonesia

📌 𝗨𝘀𝗲𝗿 𝗔𝗰𝗰𝗲𝗽𝘁𝗮𝗻𝗰𝗲 𝗧𝗲𝘀𝘁 (𝗨𝗔𝗧) – 𝗣𝗿𝗼𝘆𝗲𝗸 𝗞𝗼𝗻𝘀𝘂𝗹𝘁𝗮𝘀𝗶 𝗜𝗧 𝗦𝗲𝗿𝘃𝗶𝗰𝗲 𝗠𝗮𝗻𝗮𝗴𝗲𝗺𝗲𝗻𝘁 𝗱𝗮𝗻 𝗜𝗺𝗽𝗹𝗲𝗺𝗲𝗻𝘁𝗮𝘀𝗶 𝗘𝗦𝗧𝗜𝗠 𝗦𝗼𝗳𝘁𝘄𝗮𝗿𝗲 𝗱𝗶 𝗔𝗶𝗿𝗡𝗮𝘃 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮

𝗣𝗧 𝗠𝗶𝘁𝗿𝗮𝘁𝗲𝘅 𝗞𝗼𝗻𝘀𝘂𝗹𝘁𝗮𝗻 melaksanakan sesi User Acceptance Test (UAT) dalam proyek Konsultasi IT Service Management dan Implementasi ESTIM Software di AirNav Indonesia (Perum LPPNPI).

Melalui sesi UAT ini, dilakukan pengujian dan evaluasi untuk memastikan fungsionalitas ESTIM Software telah sesuai dengan kebutuhan pengguna serta mendukung proses pengelolaan layanan TI yang lebih terstruktur, terintegrasi, dan efektif.

#MitratexKonsultan #AirNavIndonesia #ESTIMSoftware #UserAcceptanceTest #UAT #ITServiceManagement #ITSM #DigitalTransformation #YourCompliancePartner

📌 Kick-Off Meeting Pendampingan Audit Resertifikasi ISO/IEC 20000-1:2018 di BPKP

📌 𝗞𝗶𝗰𝗸-𝗢𝗳𝗳 𝗠𝗲𝗲𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗣𝗲𝗻𝗱𝗮𝗺𝗽𝗶𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗔𝘂𝗱𝗶𝘁 𝗥𝗲𝘀𝗲𝗿𝘁𝗶𝗳𝗶𝗸𝗮𝘀𝗶 𝗜𝗦𝗢/𝗜𝗘𝗖 𝟮𝟬𝟬𝟬𝟬-𝟭:𝟮𝟬𝟭𝟴 𝗱𝗶 𝗕𝗣𝗞𝗣

Menjaga kualitas layanan TI bukan hanya tentang memenuhi standar, tetapi juga memastikan proses layanan tetap berjalan secara konsisten dan terus berkembang.

Melalui proyek 𝗣𝗲𝗻𝗱𝗮𝗺𝗽𝗶𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗔𝘂𝗱𝗶𝘁 𝗥𝗲𝘀𝗲𝗿𝘁𝗶𝗳𝗶𝗸𝗮𝘀𝗶 𝗜𝗦𝗢/𝗜𝗘𝗖 𝟮𝟬𝟬𝟬𝟬-𝟭:𝟮𝟬𝟭𝟴 di 𝗕𝗮𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗮𝘄𝗮𝘀𝗮𝗻 𝗞𝗲𝘂𝗮𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗺𝗯𝗮𝗻𝗴𝘂𝗻𝗮𝗻 (𝗕𝗣𝗞𝗣), 𝗣𝗧 𝗠𝗶𝘁𝗿𝗮𝘁𝗲𝘅 𝗞𝗼𝗻𝘀𝘂𝗹𝘁𝗮𝗻 mendukung kesiapan organisasi dalam menghadapi proses audit resertifikasi serta mempertahankan penerapan Sistem Manajemen Layanan TI yang efektif dan berkelanjutan.

Terima kasih kepada BPKP atas kepercayaan yang diberikan.

#MitratexKonsultan #BPKP #ISO20000 #ITServiceManagement #ITSM #AuditResertifikasi #ServiceManagement #YourCompliancePartner

Kenapa 80% Implementasi ITIL Gagal (Dan Tidak Ada yang Mau Mengakuinya)

Semua Bilang Berhasil. Tapi Operasional Tetap Berantakan.


Semua Proyek Dimulai dengan Optimisme

Isi artikel

Awal proyek selalu terlihat menjanjikan:

  • Workshop berjalan lancar
  • Consultant presentasi meyakinkan
  • Framework jelas
  • Timeline disusun
  • Budget disetujui

Semua orang percaya:

“Kali ini kita akan implementasi ITIL dengan benar.”


Beberapa Bulan Kemudian… Realita Mulai Muncul

Isi artikel

Yang terjadi di lapangan:

  • SOP selesai… tapi tidak dipakai
  • Tools sudah live… tapi tidak optimal
  • Proses ada… tapi dilanggar
  • Tim mulai kembali ke cara lama

Dan yang paling menarik:

Secara resmi… proyek dianggap “berhasil”.


Kenapa Bisa Begini?

Karena kita sering mendefinisikan “berhasil” sebagai:

  • go-live selesai
  • dokumentasi lengkap
  • audit lolos

Bukan:

operasional benar-benar berubah


Mari Jujur… Ini Penyebab Sebenarnya


1. Fokus ke Project, Bukan Transformation

Banyak organisasi memperlakukan ITIL sebagai:

👉 project dengan deadline

Padahal seharusnya:

👉 perubahan cara kerja jangka panjang

Hasilnya:

  • selesai di atas kertas
  • gagal di operasional

2. Over-Design, Under-Execution

Yang sering terjadi:

  • workshop berhari-hari
  • proses didesain detail
  • dokumen sangat lengkap

Tapi:

  • tidak pernah benar-benar dijalankan
  • tidak pernah diuji dalam kondisi nyata

3. Tools Dikirim Lebih Cepat dari Mindset

Organisasi berpikir:

“Kalau sudah pakai tools, berarti sudah ITIL.”

Padahal:

  • tools hanya enabler
  • bukan solusi utama

Tanpa perubahan cara kerja:

tools hanya mempercepat chaos


4. Tidak Ada Ownership yang Jelas

Semua orang:

  • ikut meeting
  • ikut diskusi

Tapi saat implementasi:

tidak jelas siapa yang benar-benar bertanggung jawab


5. Tidak Siap Menghadapi Resistance

Realita:

  • orang tidak suka berubah
  • tim nyaman dengan cara lama
  • proses baru dianggap ribet

Tanpa change management yang kuat:

semua akan kembali ke kebiasaan lama


Masalah Terbesarnya?

Tidak ada yang mau bilang:

“Ini gagal.”

Karena:

  • sudah keluar budget besar
  • sudah melibatkan banyak pihak
  • sudah dilaporkan ke manajemen

Akhirnya:

semua sepakat pura-pura berhasil


Ciri-Ciri Implementasi ITIL yang Gagal (Tapi Dianggap Sukses)

  • SOP lengkap, tapi tidak dipakai
  • Tools ada, tapi digunakan setengah hati
  • KPI bagus, tapi user tetap komplain
  • Incident berulang
  • Tim kembali ke cara manual
  • Maturity level tinggi sesuai atau melebihi target

Solusi (Yang Jarang Dilakukan dengan Serius)


1. Treat ITIL as Journey, Not Project

Bukan:

  • selesai dalam 6 bulan

Tapi:

  • evolve terus menerus

2. Fokus ke Behaviour Change

Bukan:

  • “proses apa yang kita punya”

Tapi:

  • “bagaimana tim benar-benar bekerja”

3. Start Small, But Real

Lebih baik:

  • 1 proses berjalan nyata

Daripada:

  • 10 proses hanya di dokumen

4. Measure What Matters

Bukan:

  • compliance

Tapi:

  • outcome
  • user experience
  • stability

Implementasi ITIL jarang gagal di dokumen. Tapi sering gagal di kebiasaan.


ITIL bukan masalah.

Framework sudah jelas. Best practice sudah ada.

Yang sering gagal adalah:

kita ingin terlihat berubah… tanpa benar-benar berubah.


Banyak implementasi ITIL terlihat sukses.

Go-live selesai. SOP lengkap. Tools jalan.

Tapi operasional tetap chaos.

Karena yang berubah hanya dokumentasi… bukan cara kerja.

Dan itu yang paling mahal.

#DigitalTransformation #Mitratex #MitratexConsulting #IndonesiaTechDigest #ITServiceManagement #ITSM #ITIL #ITGovernance #ITTransformation #ChangeManagement #ProcessImprovement #ContinualImprovement #ITOperations #ITLeadership #OperationalExcellence #ServiceManagement #ITManager

Ditulis oleh: Dr. Dede Mulyana

Monitoring Penggunaan LMS Halal & Sharing Session ESTIM Software di BPJPH

𝗠𝗼𝗻𝗶𝘁𝗼𝗿𝗶𝗻𝗴 𝗣𝗲𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗮𝗮𝗻 𝗟𝗠𝗦 𝗛𝗮𝗹𝗮𝗹 & 𝗦𝗵𝗮𝗿𝗶𝗻𝗴 𝗦𝗲𝘀𝘀𝗶𝗼𝗻 𝗘𝗦𝗧𝗜𝗠 𝗦𝗼𝗳𝘁𝘄𝗮𝗿𝗲 𝗱𝗶 𝗕𝗣𝗝𝗣𝗛

𝗣𝗧 𝗠𝗶𝘁𝗿𝗮𝘁𝗲𝘅 𝗞𝗼𝗻𝘀𝘂𝗹𝘁𝗮𝗻 melaksanakan sesi monitoring penggunaan LMS Halal sekaligus sharing session 𝗘𝗦𝗧𝗜𝗠 𝗦𝗼𝗳𝘁𝘄𝗮𝗿𝗲 di 𝗕𝗮𝗱𝗮𝗻 𝗣𝗲𝗻𝘆𝗲𝗹𝗲𝗻𝗴𝗴𝗮𝗿𝗮 𝗝𝗮𝗺𝗶𝗻𝗮𝗻 𝗣𝗿𝗼𝗱𝘂𝗸 𝗛𝗮𝗹𝗮𝗹 (𝗕𝗣𝗝𝗣𝗛).

Kegiatan ini menjadi ruang diskusi dan berbagi wawasan dalam mendukung optimalisasi layanan melalui teknologi digital.

#MitratexKonsultan #BPJPH #LMSHalal #ESTIMSoftware #DigitalTransformation

📌 Kick-Off Meeting Proyek Penyusunan Tata Kelola Teknologi Informasi di PLN Indonesia Power

𝗞𝗶𝗰𝗸-𝗢𝗳𝗳 𝗠𝗲𝗲𝘁𝗶𝗻𝗴 𝗣𝗿𝗼𝘆𝗲𝗸 𝗣𝗲𝗻𝘆𝘂𝘀𝘂𝗻𝗮𝗻 𝗧𝗮𝘁𝗮 𝗞𝗲𝗹𝗼𝗹𝗮 𝗧𝗲𝗸𝗻𝗼𝗹𝗼𝗴𝗶 𝗜𝗻𝗳𝗼𝗿𝗺𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗶 𝗣𝗟𝗡 𝗜𝗻𝗱𝗼𝗻𝗲𝘀𝗶𝗮 𝗣𝗼𝘄𝗲𝗿

𝗣𝗧 𝗠𝗶𝘁𝗿𝗮𝘁𝗲𝘅 𝗞𝗼𝗻𝘀𝘂𝗹𝘁𝗮𝗻 melaksanakan Kick-Off Meeting Proyek Penyusunan Tata Kelola Teknologi Informasi di PLN Indonesia Power.

Agenda ini membahas pelaksanaan proyek yang berfokus pada penyusunan tata kelola TI untuk mendukung pengelolaan teknologi informasi yang lebih terstruktur, terarah, dan selaras dengan kebutuhan serta tujuan organisasi.

#MitratexKonsultan #PLNIndonesiaPower #ITGovernance #TataKelolaTI #ITManagement DigitalGovernance YourCompliancePartner

Kalau Perusahaan Hanya Boleh Mempertahankan Satu Profesi IT… Siapa yang Paling Penting?

Semua Profesi IT Merasa Paling Penting

Coba tanyakan ke satu perusahaan:

“Kalau hanya boleh mempertahankan SATU profesi IT, siapa yang harus tetap ada?”

Developer mungkin bilang:

“Tanpa kami, siapa yang membuat aplikasinya?”

Network Engineer bisa menjawab:

“Kalau jaringan mati, aplikasinya mau jalan di mana?”

Cyber Security punya alasan lain:

“Sistem berjalan tapi tidak aman, sama saja menunggu masalah.”

DevOps memastikan perubahan bisa berjalan cepat dan stabil.

Data Engineer memastikan data bisa digunakan untuk mengambil keputusan.

Lalu siapa yang paling penting?

Jawabannya ternyata tidak sesederhana memilih satu profesi.


Isi artikel

Masing-Masing Hebat… Tapi Tidak Bisa Berdiri Sendiri

Developer bisa membuat aplikasi yang luar biasa.

Tapi aplikasi tetap membutuhkan network agar dapat diakses.

Network yang stabil tetap membutuhkan security.

Development yang cepat membutuhkan operation dan automation.

Dan semua aktivitas tersebut menghasilkan data yang harus dikelola agar bisa digunakan bisnis.

Artinya…

keberhasilan layanan IT bukan hasil satu profesi.

Tetapi hasil dari banyak fungsi yang saling terhubung.

“Aplikasi yang berhasil dibuat belum tentu menjadi layanan yang berhasil dijalankan.”


Masalah Dimulai Ketika Semua Bekerja Sendiri-Sendiri

Developer hanya memikirkan development.

Operation hanya memikirkan availability.

Security hanya memikirkan keamanan.

Data hanya memikirkan data.

Secara individual…

semuanya mungkin bekerja dengan baik.

Tapi ketika tidak ada kolaborasi, masalah kecil bisa berubah menjadi masalah besar.

Dan biasanya hal itu baru terlihat…

ketika incident terjadi.


Isi artikel

Ketika Incident Terjadi, Tidak Ada Lagi “Itu Bukan Bagian Saya”

Ketika aplikasi tidak bisa digunakan…

customer tidak bertanya:

“Ini salah Developer atau Network?”

Ketika transaksi gagal…

Direksi juga tidak ingin mendengar:

“Itu bukan scope tim kami.”

Bagi bisnis, semuanya hanya satu:

layanan sedang bermasalah.

“Di dalam IT kita mengenal banyak fungsi. Di mata bisnis, semuanya tetap satu layanan.”


Jadi… Siapa yang Paling Penting?

Developer?

Network Engineer?

Cyber Security?

DevOps?

Data Engineer?

Mungkin pertanyaan yang lebih tepat bukan:

“Siapa yang paling penting?”

Tetapi:

“Apakah mereka mampu bekerja sebagai satu tim?”

Karena perusahaan tidak membutuhkan sekumpulan orang hebat yang bekerja sendiri-sendiri.

Perusahaan membutuhkan orang-orang hebat…

yang bisa bekerja bersama.

“Tidak ada profesi IT yang memenangkan perang sendirian. Yang menang adalah tim yang mampu bekerja sebagai satu kesatuan.”

Tapi kalau tetap dipaksa memilih…

kalau perusahaan Anda hanya boleh mempertahankan SATU profesi IT, siapa yang Anda pilih?

#DigitalTransformation #Mitratex #MitratexConsulting #IndonesiaTechDigest #IT #ITIndonesia #ITProfessionals #ITCareer #Developer #NetworkEngineer #CyberSecurity #DevOps #DataEngineer #ITOperations #ITServiceManagement #ITLeadership #DigitalTransformation #Teamwork #Mitratex

Ditulis oleh: Febby Febrianti

📌 Training Jalin Premises Management JIVA berbasis ESTIM Software

𝗧𝗿𝗮𝗶𝗻𝗶𝗻𝗴 𝗝𝗮𝗹𝗶𝗻 𝗣𝗿𝗲𝗺𝗶𝘀𝗲𝘀 𝗠𝗮𝗻𝗮𝗴𝗲𝗺𝗲𝗻𝘁 𝗝𝗜𝗩𝗔 𝗯𝗲𝗿𝗯𝗮𝘀𝗶𝘀 𝗘𝗦𝗧𝗜𝗠 𝗦𝗼𝗳𝘁𝘄𝗮𝗿𝗲

𝗣𝗧 𝗠𝗶𝘁𝗿𝗮𝘁𝗲𝘅 𝗞𝗼𝗻𝘀𝘂𝗹𝘁𝗮𝗻 melaksanakan Training Jalin Premises Management JIVA berbasis ESTIM Software, sebagai bagian dari pemanfaatan sistem untuk mendukung pengelolaan premises yang lebih terstruktur dan terintegrasi.

Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada PT Mitratex Konsultan dan ESTIM Software.

#MitratexKonsultan #ESTIMSoftware #JIVA #PremisesManagement #Training #DigitalTransformation #ESTIMITSM #ITSM